Bagaimana Mini Mengubah Dunia Motorsport Part.2 : Mini’s Monte Carlo Marvelous Magic

Mini Cooper Monte Carlo
Sometimes, magic happens in the smallest thing. Ambil contoh : Bakteri. Salah satu organisme terkecil didunia. Kasat mata, terkesan remeh. Tapi sebenarnya, bakteri adalah elemen terpenting dari kehidupan. Tanpanya, tidak ada siklus kehidupan, tak ada pengurai, tak ada sumber nutrisi, tak ada kehidupan & kematian. Sebuah rotasi tanpa akhir.

Ah sudahlah, ini bukan blog ilmu pengetahuan Biologi atau fenomena alam. Now let’s move the the real deal of this blog : Automotive stories. Sesuai janji kemarin, saatnya mengulas trilogi kisah Mini!

Mini Cooper Monte Carlo
Sebelumnya sudah Pedal2theMetal ceritakan, bahwa Mini, mobil dengan mesin berkapasitas tidak lebih besar dibanding Toyota Kijang, namun bisa menjuarai salah satu kejuaraan rally terberat sepanjang masa, Rallye Automobile Monte Carlo? Well, selain campur tangan Dewi Rally & do’a rakyat Inggris, tentunya ada kekuatan lain yang menjadikan Mini sebagai salah satu pahlawan Inggris…

Mini Cooper Monte Carlo
1960, adalah awal dari pertemuan sang tunggangan Mr. Bean & medan berat Monte Carlo. Baru saja 6 bulan Mini diluncurkan, ada 6 privateer (koinsiden ya? 6 bulan & 6 orang) memakai Mini sebagai senjata tempur mereka. Too bad, its not too successful. Posisi terbaik yang didapat hanyalah ke-23.

Mini Cooper Monte Carlo
What’s the problem? Seperti ucapan andalan Clarkson : More powaaaahhhhh! Enter the John Cooper Works. Dengan memakai stroker-kit baru (dari 848cc -> 997cc), girboks close-ratio, karburator SU & cakram depan (yeah, that’s awesome at 60’s), varian homologasi bernama Mini Cooper siap menerjang lintasan rally pada tahun 1961! Result? Jelek. Bahkan 3 Mini Cooper gagal finish…

Mini Cooper Monte Carlo
Semua berubah saat salah satu pembalap yang gagal finish, Rauno Aaltonen, kembali beraksi dengan Mini. Ditemani Tony Ambrose, pembalap berjuluk “The Rally Professor” (senior dari pembalap julukan serupa, Walter Röhrl?) menggila dengan evolusi Mini Cooper terbaru, varian S. Akhirnya, podium ke-3 berhasil direngkuh…

Mini Cooper Monte Carlo
But that’s not the end of Cooper S magic. Mengontrak kembali Paddy Hopkirk yang sebelumnya tergabung dalam tim Sunbeam, Mini berhasil mendapatkan kombinasi “pembunuh raksasa” legendaris : “The three muskeeter“, yaitu Paddy, Rauno & Timo Mäkinen. Hasilnya? 1964 adalah awal dari supremasi Mini di Monte Carlo!

Mini Cooper Monte Carlo
Dengan mesin baru berkapasitas 1275cc, mereka kembali menerobos badai salju & gelapnya malam Monte Carlo yang dijuluki “Night of the Long Knives” karena tajamnya sorotan lampu high-beam mobil demi mendapatkan secercah pandangan. 1965 juga tercatat sebagai salah satu rally terkeras karena eliminasinya yang lebih “jahat” dibanding Indonesian Idol, hanya 35 mobil yang berhasil finish dari 237 peserta!

Mini Cooper Monte Carlo
Untunglah, dengan penampilan gemilang Timo Mäkinen, 1 Mini dari 35 mobil yang lolos dari brutalnya medan Monte Carlo berhasil mencuri podium dari mobil paling potensial yang juga ikut turun, Porsche 904. Kurcaci menggemaskan dari Inggris mengalahkan monster dominator dunia balap era 60an dari Jerman? Dunia otomotif gempar! Dan penjualan Mini Cooper S langsung melonjak deras!

Mini Cooper Monte Carlo
The magic still happens next year at the same place. Dan lebih buas! “The three muskeeter” kali ini mengangkangi saingannya seperti Citroën ID / DS & Lotus Cortina. They smack the bigger enemies with the small but deadly punches. And they won : Podium 1-2-3 mereka rampas dengan elegan ala aristokrat! Sayangnya, dalam setiap kegembiraan, tersimpan 1 kedengkian…

Mini Cooper Monte Carlo
…Pihak panita dengan juri berkebangsaan Prancis, mendiskualifikasi tim Mini & Lotus, karena penggunaan lampu tambahan di radiator. Eh? Dari awal mengikuti rally, Mini selalu memakai perangkat itu, bahkan tim lain juga! Dan konyolnya, tim dari Prancis yang memakai Citroën ID malah lolos sehingga menjadi juara! Kolusi? Ya. Dan itu menjijikan, membuat sang pemenang, Pauli Toivonen, menolak menerima piala & bersumpah tidak akan membela Citroën lagi!

Mini Cooper Monte Carlo
Terlihat menyedihkan memang, namun kembali lagi, dari 1 kesedihan, tersimpan makna-makna manis yang bisa dirasakan : Penjualan & popularitas Mini semakin melonjak karena “Monte Carlo-gate“, dan tim Mini semakin bersemangat kembali mendulang podium pada tahun berikutnya. Their spirit is ignited in the most heated sparks : Let’s win it again lads!

Mini Cooper Monte Carlo
Salah satu member dari trio ajaib itu yang bernafsu, adalah Rauno. Kali ini ditemani Henry Liddon, mereka sangatlah memacu maksimum mobil yang khas dengan warna Tartan Red & atap berwarna putih itu. Saking fokus & niat, pada sebuah badai salju (yang jamak terjadi saat rally Monte Carlo), mereka mendapat musibah…

Mini Cooper Monte Carlo

“We were flying in the air. The headlights were showing the fir trees, and the snow, it looked like we were in a fairytale. These boulders covered in snow looked like ghosts, in my eyes.”
Rauno Aaltonen

…Mereka terguling jatuh kedalam jurang dalam stage paling berbahaya di Monte Carlo, Col de Turini! Shit happens, in the most wrong time. Syukurlah, keajaiban Mini & Monte Carlo terjadi : Mereka tidak terguling parah, dan mobil mendarat pada salju. Setelah berterima-kasih pada Tuhan karena masih bisa bernafas, mereka kembali menyetir, dan lagi-lagi keajaiban terjadi : Mereka menemukan jalan, dan…

Mini Cooper Monte Carlo
…Rupanya itu adalah jalan pintas! Mereka mempersingkat waktu tempuh cukup signifikan, 5 detik! Dan mereka berhasil menjuarainya, jauh didepan Ove Andersson & Lancia Fulvia dengan margin 12 detik. Dunia kaget, bagaimana bisa mereka menang? Well, there’s a secret. Rahasia yang Rauno & Henry jaga baik selama 20 tahun, kombinasi antara pengalaman hampir mati & keajaiban Mini!

Mini Cooper Monte Carlo
Don’t stop the magic. Yeah, kalau masih bisa berfungsi, mengapa dihentikan? Squad Mini kembali bertarung, meski kali ini mereka dihadang musuh terberat sepanjang sejarah mereka, Porsche 911T & Alpine A110 “Berlinette“. Khasiat kombinasi ringan & gesit memang masih ada, namun sayangnya kali ini, tidak begitu ampuh lagi…

Mini Cooper Monte Carlo
Berjuang keras melawan kekuatan dua sportscar dengan layout RR (Rear engine, Rear wheel-drive), “The three muskeeter” yang kali ini ditemani pembalap baru nan bertalenta benama Tony Fall, Cooper S akhirnya sadar, bahwa dunia rally sudah tidak lagi kompetitif untuk mereka…

Mini Cooper Monte Carlo
Sebenarnya hasil akhirnya tidak begitu mengecewakan : 3-4-5 berhasil mereka dapatkan. Tapi tentu, itu tidak segemilang tahun-tahun sebelumnya, dan menjadi jawaban takdir bahwa inilah akhir dominasi mereka di Monte Carlo. There is an end to everything, to good things as well.

Mini Cooper Monte Carlo
Memang, terasa menyesakan saat melihat sebuah mobil yang menunjukan bahwa keajaiban dapat terjadi & dilakukan oleh hal kecil & remeh, akhirnya terhempas oleh modernisasi & ketatnya pertarungan. Bigger, better & heavier is faster. Meskipun masih ada sedikit semangat yang sama dalam kisah ini

Mini Cooper Monte Carlo
Kembali lagi pada pertanyaan pertama : Bagaimana Mini bisa menang? Mobil yang gesit? Ringan? Pembalap yang berpengalaman & bertalenta? Atau keajaiban? Jawabannya mungkin dapat kita petik dari kutipan pembalap wanita pertama yang berkompetisi di arena Indianapolis 500 & Daytona 500 ini, Janet Guthrie :

“It (racing) is a matter of spirit, not strength. It is a matter of doing your best each little moment. There’s never a break. You must have desire, a very intense desire to keep going.”

That’s it. Semangat yang membara, mengalahkan dinginnya salju & gelapnya malam Monte Carlo. It’s not about your power. It’s about how you use your power. What’s human most powerful force? Your desire to win. To be the best.

Selamat malam, dan tunggu kisah akhir dari trilogi “Bagaimana Mini Mengubah Dunia Motorsport” nanti, di Pedal2theMetal!

About Tarmac Tezza

25% Femme Fatale. 25% Cry Baby. 25% 7-years old Girl. 25% 21-years old Woman. Mixed without compromise.

13 thoughts on “Bagaimana Mini Mengubah Dunia Motorsport Part.2 : Mini’s Monte Carlo Marvelous Magic

  1. yang jadi pertanyaan sebenarnya adalah kaki2. bahkan gerobak 1300cc ane saja tidak cukup kuat untuk bermain offroad walaupun sudah di tune. Tapi untuk sebuah city car, bahkan sudah masuk jurang pun tetep bisa jalan, kekuatan kaki2nya benar2 bikin heboh…..😈

    • Mungkin karena sistem suspensi Mini Cooper gak pakai per & pegas biasa?

      Dia pakai Hydrolastic, sejenis suspensi, tapi gak pakai per besi, tapi karet. Redaman getaran lebih bagus (untuk mobil wheelbase pendek), sayangnya terlalu ceper untuk mobil😆

      What a technology, John Cooper & Sir Alec Issigonis used for their precious midget🙂

  2. itu mini apa masih pake body std ato uda di ganti turbular ya?
    dan suspensinya yahud bener dah , penasaran ane sm konfigurasinya haha…
    jgn2 d mobil kecil gini pake push rod suspenssion ala F1 ato double whisbone ala Lotus yg terkenal ajib handlingnya
    anyway di tunggu lanjutan kisahnya

    • No modified🙂

      Enggak pakai pushrod kok…Simply the Hydrolastic, dan sampai sekarang, itu masih dianggap salah satu state-of-art untuk efisiensi. Sayangnya, sekarang udah gak bisa dipakai, soalnya body mobil udah gede2 & berat semua😀

  3. Pingback: Bagaimana Mini Mengubah Dunia Motorsport Part.3 | Pedal 2 the Metal Autoblog

  4. Kenapa nggak boleh pakai lampu kabut di depan radiator ya?? hehehe karena radiator mini cooper itu bukan menghadap depan tapi di samping ke arah fender kiri depan..😀

    • Hihihi…Itulah Bang Arip, alasan Federation Internationale de l’Automobile Prancis katanya quadlight iodine Mini itu gak standar, sedangkan Citroen (yang notabene pakai sama) memasukannya dalam lampu bawaanya, jadi dianggap lolos. Basicly, it’s nepotism😆

Komentar? Feedback? Kritik? Tulis Saja Dibawah!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s