Jiotto Caspita, The Dark Side of The Moon

Jiotto Caspita
Sulit untuk mendapatkan formula membuat sebuah supercar yang sukses. Produsen tidak hanya cukup membuat mobil dengan performa yang hebat, desain yang spektakuler, teknologi yang mencengangkan sampai harga yang menarik (bukan murah, tapi menarik. Memang ada supercar yang murah?). Tidak, masih ada faktor “X” yang bisa membuat mobil yang meskipun memiliki semua poin diatas, namun masih dapat terjungkal jika tidak memiliki faktor “X” itu. Contohnya? Yamaha OX-99 11.

Jiotto Caspita

For long you live and high you fly
But only if you ride the tide
And balanced on the biggest wave
You race towards an early grave
Pink Floyd – Breathe

Breathe, adalah salah satu lagu yang terserak dalam album ikonik “The Dark Side of the Moon” dari band rock legendaris, Pink Floyd. Mengapa Pedal2theMetal mengutip lirik lagu itu dalam tulisan ini? Tentu karena bait-bait liriknya tepat untuk mendeskripsikan nasib supercar Jepang ini : Mampu & siap terbang tinggi mencapai kesuksesan, namun karena tidak memiliki nasib & takdir yang sama dengan supercar lain, maka berakhirlah ia kedalam jurang kegelapan sejarah otomotif. Itulah nasib Jiotto Caspita.

Jiotto Caspita
Sebelum berbicara lebih jauh soal Caspita, alangkah lebih baik jika kita mengenal dahulu soal pabrikannya, Jiotto Design. Jiotto, merupakan biro desain yang dibentuk pada tahun 1988 oleh konstruktor mobil balap terkenal Jepang, Dome. Jiotto Design dengan cepat menarik perhatian banyak pihak, dan banyak perusahaan besar Jepang memakai jasanya, mulai dari Honda, Subaru, Yamaha, sampai pabrikan non-otomotif seperti Sony & Canon.

Jiotto Caspita
Yang membuat banyak pihak tertarik adalah nama dibalik Jiotto. Dialah Kunihisa Ito, desainer industri yang sudah berpengalaman mendesain banyak produk perusahaan otomotif dunia, seperti GM, Ford – Mazda, sampai Nissan. Untuk membuktikan kemampuan dirinya & perusahaan yang ia kelola, Ito-san berencana membuat sebuah supercar Jepang dengan kelas dunia, menggantikan peran Dome Zero yang gagal.

Jiotto Caspita
Idenya sangat bombastis : “F1 untuk jalan raya.” Sebuah ide yang memiliki 2 mata pisau yang sangat tajam : Jika berhasil, nama perusahaannya (dan Jepang) akan melambung tinggi, namun jika gagal? Total blunder, bahkan beresiko menghancurkan perusahaan, karena butuh biaya & tenaga kerja yang memiliki kelas berbeda dengan membuat mobil sport biasa misalnya.

Jiotto Caspita
Ito-san, mengandalkan kemampuan Dome dalam membangun mobil balap Grup.C & Le Mans, membuat Caspita dengan konstruksi yang sama dengan konsep awal : Ukuran yang panjang & rendah namun tidak besar, lalu memiliki bobot sangat ringan, serta tentu saja memakai konstruksi yang kuat dengan posisi mesin berada di tengah. Diatas kertas, ini sudah sangat mirip dengan mobil Formula 1 bukan?

Jiotto Caspita
Berbekal infrastruktur dari Dome, Jiotto pada tahun berikutnya (1989) langsung menyelesaikan unit prototip pertamanya. Tidak hanya memakai konstruksi monokok berbahan serat karbon ala Formula 1 saja, Caspita juga memiliki sumber mesin yang sama dengan Yamaha OX99-11, yaitu langsung telan bulat-bulat mesin Formula 1, untuk kasus Caspita berasal dari Subaru!

Jiotto Caspita
Subaru pernah membuat mesin F1? Ya, bahkan mengikutinya! Pada tahun 1990, Fuji Heavy International membeli tim kecil Enzo Coloni, yang memakai mesin 12-silinder buatan konstruktor mesin Italia, Moto Moderni. Mesin ini sendiri memiliki konfigurasi khas Subaru, Ferrari 512BB & Testarossa, yaitu Boxer. Mesin ini juga sudah diturunkan performanya oleh Moto Moderni, meski masih buas pada era 80an : 456hp! Tenaga sebesar itu lalu disalurkan via transmisi 6-percepatan dari Weismann.

Jiotto Caspita
Bagaimana performa mobil dengan figur efektif (panjang 4,5m / lebar 1,9m / tinggi 1, + wheelbase 2700mm) ini? Sangat memuaskan, bahkan hampir 11-12 dengan mobil F1 yang menjadi basisnya. Mulai dari akselerasi 0-100km/h yang hanya butuh waktu 4,7 detik, sampai topspeed 320km/h. Membuat Caspita tidak hanya mengalahkan mobil-mobil sport dari Jepang, namun juga banyak supercar dunia! Bahkan, Caspita pernah direncanakan dalam versi balap yang bisa anda lihat diatas.

Jiotto Caspita
Biarpun sudah sangat dahsyat, dilakukan restrukturisasi dari prototip Caspita agar lebih menarik di jalan raya (yang menjadi fokus Jiotto Design), terutama di sektor desain & mesin. Dari sisi eksterior, Ito-san mengganti desain lampunya menjadi model ganda ala “kacang” (mirip Smart!), bentuk spion serta posisi lampu sein-nya. Hasilnya? Wajah Caspita menjadi lebih futuristis jika dibandingkan varian prototip yang terlalu “balap.”

Jiotto Caspita
Agar makin kuat kesan supercar “global”, tentunya trend khas supercar pada saat itu turut dibenamkan dalam Caspita. Absen saja : Warna silver metalik dengan aksen kebiru-biruan, velg custom dengan desain unik, dan tentu saja pintu Gullwing. Sangat 80an! Satu-satunya penanda bahwa mobil ini buatan Jepang hanyalah lingkaran merah dekat mesin, yang menyimbolkan “Hinomaru” (bendera negara Jepang.)

Jiotto Caspita
Meskipun memiliki eksterior yang mendunia, kabin Caspita cukup berbeda jauh dengan supercar saingannya, Jaguar / TWR XJR-15, karena skema warna yang cukup mencolok. Namun, ada ciri khas supercar 80an dalam interior Caspita, misalnya banyak knop yang menyebar di sekitar dahsboard & glove-box, sampai desain arah tuas transmisi yang mirip dengan Ferrari pre-paddle shifter.

Jiotto Caspita
Lalu, bagaimana dengan mesinnya? Mungkin karena Jiotto kurang puas dengan mesin Subaru / Moto Moderni yang memiliki reputasi kurang mengesankan di arena balap, akhirnya Jiotto memilih mesin V10 dari JUDD yang tentu saja berasal dari Formula 1 juga. Dengan desain yang lebih kompak, ditambah lagi tenaga yang lebih besar (menjadi 585hp), Caspita prototip final ini diperkirakan mampu dipacu sampai 345km/h. Akselerasi? 0-100km/h hanya 3,4detik!

Jiotto Caspita
Mengimbangi performanya yang siap melalap supercar sekaliber McLaren F1, Dome mengimbuhi Caspita dengan berbagai teknologi dari pengalaman balap mereka, misalnya suspensi pushrod double-wishbone, wing spoiler elektronik agar dapat naik-turun beserta diffuser dibawah sasis untuk menambah daya tekannya dalam kecepatan tinggi. Dome serta Jiotto, bahkan Jepang, sepertinya mengeluarkan segala yang mereka punya & dapat lakukan untuk menambah potensi Caspita!

Jiotto Caspita
Lalu seperti Pedal2theMetal paparkan dalam pembuka tulisan ini, untuk membuat & memproduksi supercar, faktor “X” yang sangat berpengaruh. Faktor “X” sendiri merupakan sinergi dari keberuntungan, momentum, reaksi serta permintaan pasar. Kurang satu saja, maka musnahlah rencana menuju kesuksesan. Itu pula yang menutup jalan Caspita : Meski pasar bereaksi & memberikan respon positif, momen disaat Caspita muncul adalah dimana krisis global menyerang.

Jiotto Caspita
Krisis global itu mirip kanker, menggerogoti seluruh lini tubuh ekonomi, termasuk industri otomotif. Membuat permintaan akan mobil baru berkurang, apalagi sekelas supercar. Karena inilah pada tahun 1993, Dome & Jiotto menghentikan proyek Caspita, yang menemani ratusan supercar lainnya yang gagal untuk memperlihatkan pesona mereka pada dunia. Jiotto sendiri akhirnya ditutup pada tahun 1999, karena Dome lebih memfokuskan diri pada kegiatan balap mereka di Le Mans.

Jiotto Caspita
Apakah dunia melupakan Caspita? Bisa ya, bisa juga tidak. Ya, Caspita terlupakan karena selain minimnya publikasi diluar Jepang, pengetesan oleh pihak diluar Jiotto & Dome juga bisa dibilang tidak ada. Namun, Caspita juga tidak terlupakan, karena berhasil menggrafir namanya sebagai “The First Proper Supercar” menggantikan pendahulunya, Dome Zero, karena performanya yang jauh lebih baik, dan siap untuk bertarung melawan supercar-supercar dunia lainnya…

Sumber : Dome Co., LTD

Trivia : Musisi Fusion dari Jepang bernama Yuzo Hayashi, pernah membuat 1 album penuh dengan judul “Jiotto Caspita” sebagai tribut akan supercar hebat ini. Penasaran? Klik saja ini!

About RYHN.FRDS

Your dangerously addictive photographer. Excels at motography, riding crap bikes & cursing about it.

11 thoughts on “Jiotto Caspita, The Dark Side of The Moon

  1. hmmm… menambah wawasan
    sebaiknya desainer hati2 sama model pintu scissor & wing, soalnya pernah ada kasus lambo murcie terbalik waktu di jalan (katanya sih di pinggir autobahn). Setelah terbalik, keluar api hingga terbakar semua. Si pengendara gak bisa keluar karena model pintunya yg terbuka ke atas (bayangkan waktu di posisi terbalik, buka pintu bisa gak?). Akhirnya si pengendara terbakar di dalamnya. Sadis bro.

    • Jangankan di luar negeri, dulu ada orang Bali, pakai Ferio + Scissors Doors, pas ada kebakaran ya sulit keluar karena pegas pendorong pintunya mampet. Fucked up…Untung selamet meski mobilnya jelas gosong

Komentar? Feedback? Kritik? Tulis Saja Dibawah!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s